Atikpasca’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Laporan Observasi PMRI di SD 117 Palembang

Posted by atikpasca pada Juni 8, 2009

LAPORAN OBSERVASI PMRI DI SD NEGERI 117 PALEMBANG

I.             Pendahuluan

Upaya pembaharuan dalam pendidikan matematika sudah sejak lama dilakukan, ada upaya pembaharuan melalui perubahan kurikulum dan ada pula pembaharuan melalui proses pembelajarannya. Salah satu upaya yang ditempuh dalam memperbaharui proses pembelajaran matematika dikelas adalah dengan menggunakan pendekatan realistic. Pendidika nrealistik yang di Indonesia dikenal dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan pendidika nmatematika yang di adaptasi dari Realistic Mathematics Education (RME) yang berasal dari Belanda. Pemikiran dasar RME ini bertumpu pada realita dalam kehidupan keseharian  dan PMRI telah diselaraskan dengan kondisi budaya, geografi dan kehidupan masyarakat Indonesia umumnya.

Pada Program studi magister pendidikan matematika Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya, PMRI menjadi salah satu mata kuliah yang diajarkan semester dua. Diharapkan para mahasiswa dapat menerapkan PMRI ini apabila merekaa mengajar nantinya. Pada proses perkuliahannya, mata kuliah PMRI ini tidak hanya dilaksanakan di kelas tetapi juga melakukan observasi ke sekolah-sekolah yang telah melaksanakan PMRI.

Di Palembang ada beberapa sekolah yang telah menerapkan PMRI diantaranya SD Negeri 117 Palembang, SD Negeri 98 Palembang, MIN 1 Palembang, MIN 2 Palembang. Di SD Negeri 117 Palembang tempat kami melakukan observasi PMRI telah dilaksanakan di kelas I, kelas II dan kelas III.  Tujuan kami mengadakan observasi ini yaitu :

  1. Untuk mengetahui sejauh mana peran guru dan peran siswa dalam proses pembelajaran dengan PMRI
  2. Untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran dengan PMRI
  3. Bagaimana materi dan evaluasi yang di berikan Guru

II.          Dasar Filosofis PMRI

Dalam PMRI matematika dipandang sebagai suatu kegiatan manusia “mathematics as human activity” sesuai dengan pandangan atau filsafat itu, maka dalam PMRI di upayakan semaksimal mungkin anak aktif dan membangun sendiri pengetahuannya. Dengan demikian dasar filosofis PMRI adalah bahwa matematika adalah kegiatan manusia dan sekaligus sebagai alat. Ini berarti bahwa perlu menempatkan kedua pandangan itu pada tempat yang cocok atau sesuai dengan jiwa peserta didik.

III.       Prinsip PMRI

Ada tiga prinsip PMRI yaitu :

1.  Guided Re-Invention atau penemuan kembali secara terbimbing

Prinsip ini menekankan “penemuan kembali” secara terbimbing. Melalui topik-topik tertentu yang disajikan, siswa di beri kesempatan untuk membangun dan menemukan kembali ide-ide dan konsep-konsep matematika. Setiap siswa diberi kesempatan sama untuk membangun dan menemukan kembali ide-ide dan konsep-konsep matematika. Setiap siswa diberi kesempatan sama untuk merasakan situasi dan mengalami masalah kontekstual yang memiliki berbagai kemungkinan solusi. Memulai pembelajaran dengan masalah real atau kontekstual meski hanya dengan menbayangkannya  dan selanjutnya melalui aktivitas siswa diharapkan dapat menemukan sifat, definisi dan sebagainya.

  1. Didactical Phenomenology atau fenomena didaktik

Prinsip ini menekankan fenomena pembelajaran yang bersifat mendidik dan menekankan pentingnya maslah kontekstual untuk memperkenalkan topic-topik matematika pada siswa. Pembelajaran tidak lagi terpusat pada guru tapi pada siswa bahkan dapat juga disebut berpusat pada masalah kontekstual yang dihadapi. Masalah kontekstual dapat juga untuk memantapkan pemahaman sesuatu yang telah siswa dapat.

  1. Self Develop Model atau membangun sendiri model

Dari masalah kontekstual yang diberikan, siswa akan menuju ke matematika formal. Namun untuk menuju matematika formal tersebut siswa dapat membuat model-model sendiri yang mungkin masih sangat sederhana yang terkait dengan masalah kontekstual yang diberikan yang disebut dengan model of. Selanjutnnya melalui generalisasi siswa dapat mengembangkan model yang mengarah ke matematika formal yang disebut dengan model for.

IV.   Karakteristik PMRI

Ada lima karakteristik PMRI yaitu :

  1. Menggunakan konteks

Pembelajaran menggunakan masalah kontekstual, masalah kontekstual dapat disajikan di awal pembelajaran, di tengah pembelajaran ataupun di akhir peembelajaran. Bila dimaksudkan untuk membangun konsep maka masalah kontekstual dikemukakan di awal pembelajaran, bila bermaksud memantapkan yang telah di bangun maka dapat di sajikan di tengah pembelajaran. Apabila diberikan di akhir pembelajaran maka masalah kontekstual dimaksudkan untuk mengaplikasikan apa yan gtelah dibangun.

  1. Menngunakan model

Model yang dimaksud di sini bermacam-macam, dapat konkret berupa benda, gambar, skema yang bermaksud dijadikan sebagai jembatan dari konkret ke abstrak. Model yang mirip masalah nyata di sebut model of dan model yan gmengarah ke pemikiran formal disebut model for.

  1. Menggunakan Kontribusi Siswa

Diperlukan kontribusi siswa berupa ide atau gagasan dan aneka jawab atau prosedur penyelesaian.

  1. Interaktivitas

Interaksi yang dimaksud adalah interaksi siswa dengan siswa ataupun siswa dengan guru. Bentuk interaksi dapat berupa diskusi, negosiasi, komunikasi, memberi penjelasan dan sebagainya.

  1. Keterkaitan Antar Topik

Dalam matematika keterkaitan antar topic, konsep, operasi dan sebagainya sangat kuat, sehingga dapat dimungkinkan adanya integrasi antar topic tersebut.  Bahkan mungkin keterkaitan antar matematika dengan bidang lain. Sehingga matematika menjadi lebih bermanfaat bagi siswa.

V.           Analisa Hasil Observasi

Kami mengunjungi SD Negeri 117 Palembang pada hari jumat tanggal 13 maret 2009, kunjungan tersebut dimaksudkan untuk menemui kepala sekolah dan guru yang mengajar matematika dengan PMRI guna memperoleh izin untuk melakukan observasi. Pertemuan dengan kepala sekolah berlangsung sekitar 45 menit dari perbincangan tersebut kami akhirnya mendapatkan izin untuk melakukan observasi dan dipersilahkan untuk melaksanaknnya pada hari senin tanggal 16 maret 2009.

Observasi pertama dilaksanakan hari senin tanggal 16 maret 2009, jam 10.00 – 11.10 di kelas IIb. Pada hari itu materi yang disampaikan guru mengenai penjumlahan dan pengurangan. Penjumlahan bilangan-bilangan ratusan yang terlebih dulu di uraikan menjadi bilangan ratusan, puluhan dan satuan. Siswa di minta mengerjakan soal-soal pada buku siswa , karena ternyata siswa-siswa di kelas ini sudah sangat memahami konsep penjumlahan dan pengurangan. Terlihat dari keaktifan dan kemampuan mereka dalam menjawab soal dengan cepat.

Pada pembelajaran hari itu guru tidak menggunakan alat peraga karena sudah dilakukan pada pertemuan sebelumnya, sehingga pada saat kami melakukan observasi siswa-siswa sudah pada tahap menyelesaikan soal-soal abstrak.  Namun  dari penjelasan guru kami mendapat informasi bahwa pada saat beliau menjelaskan konsep ratusan, puluhan dan satuan, siswa diberikan alat peraga seperti gambar di bawah ini

Setelah siswa mengerjakan soal, ada dua orang siswa yang mempresentasikan jawabannya.

Observasi kedua dilaksanakan pada tanggal 30 maret 2009 di kelas yang sama, sebelum materi dimulai guru menanyakan pekerjaan rumah dan memeriksanya, kemudian guru menyampaikan materi yang akan dipelajari yaitu mengenai bilangan loncat dan memberikan alat peraga berupa manik-manik dan tali senar. Setiap kelompok diberikan jumlah manik-manik yang sama banyak, kemudian dengan manik-manik tersebut siswa diminta untuk mendemonstrasikan bilangan loncat lima sampai menemukan angka 25.

Dengan cara yang sama guru memberikan contoh lagi yaitu bilangan loncat 10 sampai menemukan angka 40 dan bilangan loncat 5 sampai menemukan 30. Manik-manik tersebut terdiri dari dua warna yaitu merah dan putih, untuk membatasi bilangan loncatan yang ditentukan, manik-manik tersebut dimasukkan ke dalam senar. Kemudian guru memberikan lima soal untuk dikerjakan oleh setiap kelompok dan membagikan kertas buram, satu lembar kertas buram untuk dua orang. Soal dan jawaban dapat dilihat pada lampiran.

Setelah masing-masing kelompok mengerjakan soal tersebut, guru memberikan wafer bagi kelompok yang telah menemukan jawaban tercepat sehingga siswa berlomba-lomba dan termotivasi untuk mengerjakannya. Akhirnya kelompk timun yang berhasil menemukan jawaban tercepat dan mendapatkan wafer. Kemudian siswa mempresentasikan ke depan kelas yang di wakilkan oleh dua orang sambil memperagakan dengan menggunakan manik-manik.

  1. VI. Penutup

Dari hasil observasi yang kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik dapat meningkatkan keaktifan siswa dan memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep matematika serta memudahkan guru dalam menyampaikan materi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: